Tampilkan postingan dengan label kemerdekaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemerdekaan. Tampilkan semua postingan

Perayaan Kemerdekaan ala Pemulung



Siapapun berhak merayakan hari kemerdekaan negerinya. Perayaannya pun beragam. Senin (18/8), sebanyak 500 pemulung berpakaian sangat unik berkarnaval dan berlagak bak pragawan
Ke-500 pemulung itu berasal dari lima titik komunitas pemulung di Suarabaya, yaitu Putatjaya, Rangkah, Kalisari, Baratajaya dan Ngagel.

"Walaupun pemulung, mereka-mereka juga orang Indonesia yang juga berhak merayakan kemerdekaan negerinya." ujar
Aries Munandar, koordinator Program Pemulung Sejahtera Yayasan Dana Sosial al Falah (YDSF).
Karnaval dimulai dari Balai Pemuda di Jalan Yos Sudarso Surabaya lalu keluar menuju ke Jalan Walikota Mustajab, lalu berbelok ke kiri ke Jalan Simpang Dukuh, lalu, melewati Jalan Gubernur Surya dan berakhir dibalai Pemuda.

"Seneng, acaranya beda dengan yang tahun lalu, sekarang lebih banyak jalan-jalannya," ujar Munakayah, pemulung asal Rangkah, seusai peragaan busana. Peringatan hari kemerdekaan RI kali ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya yang selam dua tahun berturut-turut menggelar upacara kemerdekaan ala pemulung.
YDSF hanya menyiapkan tempat, sedangkan kostum-kostum yang dipakai untuk karnaval diserahkan kepada para pemulung itu sepenuhnya.

naskah/foto: Wirawan Dwi for Matanesia Pictures

Perayaan Hari Jadi Negeri







Hari ini, 63 tahun lalu, Indonesia memulai babak baru sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Peringatan kemerdekaan Indonesia dimaknai dalam bermacam hal. Lomba 17-an adalah adalah salah satu perayaan yang sering dilakukan di berbagai daerah. Di Surabaya, puluhan pohon pinang dengan aneka hadiah di puncaknya diperebutkan oleh ratusan peserta. Di pesisir timur Surabaya, nelayan Tambak Wedi menggunakan perahu mereka untuk lomba layar.
Sementara di kawasan Tugu Pahlawan Surabaya juga ramai dikunjungi warga yang mengisi hari libur.

foto: Boby NP,Rahmat,Mamuk Ismuntoro/Matanesia Pictures